Selasa, 11 September 2012

BAB 5 KONDISI BELAJAR ROBERT GAGNE

0 komentar

Keterampilan, apresiasi, penalaran manusia, dengan semua variasinya, harapan, aspirasi, sikap ,nilai-nilai manusia, perkembangannya sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar.( Gagnẻ,1985,h.1)
Asumsi dasar dari teori Gagnẻ mendeskripsikan sifat unik dari kegiatan belajar dan defenisinya. Asumsinya,: belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain; belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual; banyak hasil belajar manusia digeneralisasikan ke dalam berbagai situasi; belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada pembelajaran sebelumnya; dan belajar bukan proses tunggal.

Komponen Belajar
Pendekatan Gagnẻ dalam mengembangkan prinsip belajar. Pertama, pemahaman tentang kapabilitas manusia karena sifat dari hasil belajar akan menentukan parameter proses belajar. Kedua, belajar dan pembelajaran bukan titik perhatian yang terpisah,keduanya harus berjalan beriringan. 
Macam-macam belajar. Lima variasi yang dianggap Gagnẻ memenuhi kriteria adalah informasi verbal,keterampilan intelektual,keterampilan motorik,sikap,dan strategi kognitif. Lima variasi belajar ini akan mempresentasikan hasil belajar.
Sembilan tahapan belajar dibagi menjadi tiga tahapan umum
1.      Persiapan belajar. Tahapan ini bertujuan mempersiapkan diri  untuk belajar seperti memperhatikan stimuli untuk belajar,membangun harapan, dan mengambil informasi yang relevan dan keterampilan dari ingatan jangka panjang untuk dimasukkan ke ingatan kerja. Biasanya tahapan ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
2.      Akuisisi dan kinerja. Pada tahapan ini memungkinkan penyimpanan stimulus penting secara temporer di dalam ingatan kemudian memberi makna (encoding) dan mentrasfer informasi ke ingatan jangka panjang,tahap ini adalah tahap sentral dan penting dalam belajar. Kegiatan inti dari belajar diakhiri dengan kinerja atau konfirmasi belajar baru. Pembelajaran mengambil kode baru disimpan di memori jangka panjang dan memberi respon.  Langkah selanjutnya adalah memberikan tanggapan. Arti penting dari tanggapan ini adalah untuk memperkuat pembelajaran ketika ia mengkonfirmasi kan bahwa tujuan telah dicapai atau dikuasai.
3.      Transfer belajar. Tahapan terakhir dari pembelajaran mencakup kesempatan untuk mengaplikasikan aktivitas belajar ke dalam situasi baru dan mengkonstruksikannya untuk diingat kembali. Tahapan ini juga melahirkan petunjuk tambahan untuk pengingatan kapabilitas di masa depan.

Hakikat Belajar yang Kompleks
Analisis belajar Gagne memcakup dua organisasi kapabilitas yang merepresentasikan belajar yang kompleks. Dua organisasi itu adalah prosedur dan hierarki belajar.

Prosedur
          Sebuah prosedur adalah:
a.  Seperangkat tindakan yang harus dilakukan sesuai urutan atau secara langkah demi langkah, dan
b. Organisasi keterampilan yang mencakup keterampilan motorik/gerak dan keterampilan intelektual (Gagne, 1985, h. 262). Contohnya adalah menulis cek, menyeimbangkan neraca, dan memarkir kendaraan.

Hierarki Belajar
          Hierarki belajar adalah “seperangkat kapabilitas intelektual tertentu yang memiliki kaitan berurutan satu sama lain (Gagne, 1985, h. 262). Artinya, setiap keterampilan atau kapabilitas adalah penting untuk mempelajari keterampilan yang lebih tinggi di urutan selanjutnya. Tipe keterampilan komponen dan kontruksi hierarki belajar.

Tipe Keterampilan Komponen
Ringkasan Keterampilan Intelektual dari yang Sederhana ke yang Kompleks
Tipe Kapabilitas
Deskripsi
Contoh
Belajar Diskriminasi.
Merespon secara berbeda pada karakteristik yang membedakan objek, seperti bentuk, ukuran, warna.
Membedakan gambar segitiga tertutup dan gambar geometris lainnya.
Belajar konsep/konsep konkret.
Mengidentifikasi objek atau kegiatan sebagai anggota dari satu konsep, belajar melalui pertemuan langsung dengan contoh konkret.
Mengidentifikasi berbagai bentuk segitiga, dari segitiga yang tinggi sampai lebar.
Konsep yang didefinisikan.
Belajar aturan klasifikasi (konsepnya adalah abstrak; tidak ada contoh konkret).
Belajar bahwa patriotisme mengacu pada situasi yang merefleksikan cinta atau semangat untuk membela negara.
Belajar Aturan.
Merespons satu kelompok situasi dengan kelompok kinerja yang mempresentasikan kaitan.
Menjawab 5+2, 6+1, dan 9+4 dengan menjumlahkan 2+5, 1+6, dan 4+9.
Belajar kaidah yang lebih tinggi (pemecahan masalah).
Memilih aturan subordinat dari ingatan untuk memcahkan masalah dan mengaplikasikannya pada urutan yang tepat.
Memecahkan persamaan linier dengan satu persamaan tersamar.

Menyusun Hierarki Belajar
          Mengembangkan hierarki belajar diawali dengan pernyataan yang jelas tentang tujuan akhir dari pembelajaran, misalnya untuk pengurangan bilangan bulat. Tujuan ini kemudian dianalisis menjadi keterampilan subordinat sehingga keterampilan leveln rendah dapat diprediksi akan menimbulkan transfer positif ke keterampilan yang lebih tinggi di dalam hierarki tersebut (Gagne, 1986b, h. 1).
          Karakteristik esensial dari hierarki belajar adalah mereka merupakan organisasi keterampilan psikologis. Suatu hierarki belajar bukanlah urutan informasi logis atau deskripsi cara pengetahuan varbal diperoleh (Gagne, 1968b).
          Keterbatasan hierarki belajar adalah hierarki ini tidak selalu merepresentasikan urutan dari belajar baru di dalam kelas. Meski demikian, hierarki belajar, dengan mengidentifikasi keterampilan prasyarat, dapat mereduksi kebutuhan akan remediasi dan memberikan hasil proses di dalam kurikulum.

PRINSIP PEMBELAJARAN

Asumsi Dasar
          Asumsi Gagne tentang pembelajaran di kelas mencakup sifat dari pembelajaran dan proses yang disebut sebagai desain pembelajaran.
Definisi Instruksi
          Belajar dapat terjadi baik karena ada ataupun tidak adanya kegiatan pembelajarab (Gagne, 1987a, h. 400). Karakteristik kedua dari pembelajaran adalah ia tidak memiliki tujuan tunggal. Ketiga keputusan tentang pembelajaran harus dibuat dalam konteks keterampilan atau keterampilan yang akan dipelajari.

Hakikat Desain Pembelajaran
          Fokus dalam prinsip Gagne adalah pembelajaran, bukan sekadar pengajaran sederhana. Maksudnya adalah untuk menangani semua kejadian yang mungkin memengaruhi belajar individual (Gagne & Briggs, 1979).

Komponen Pembelajaran
          Penopang teori adalah lima variasi belajar. Mereka berfungsi sebagai kerangka acuan untuk mengidentifikasi kapabilitas atau kapabilitas-kapabilitas yang merupakan hasil dari pembelajaran tertentu.

Mendesain Tujuan Kinerja
          Fungsi tujuan kinerja (performance objective) adalah sebagai pernyataan yang tegas tentang kapabilitas yang akan di pelajari. Istilah seperti memahami, mengerti, dan mengapresiasi harus diganti dengan istilah yang lebih tepat yang secara jelas mengkomunikasi keterampilan atau sikap yang hendak dipelajari.

Saran Kata Kerja untuk Jenis Belajar
Kapabilitas
Kata Kerja
Informasi
Menyatakan, mendefinisikan, menguraikan dengan kata-kata sendiri.
Keterampilan motorik
Melakukanm mengerjakan, memberlakukan, mengucapkan.
Sikap
Memutuskan untuk... bebas untuk memilih... memilih (aktivitas yang disukai)
Siasat Kognitif
Menentukan cara (strategi)
Keterampilan Intelektual
  Membedakan
  Konsep

  Aturan
  Kaidah tingkat tinggi

Memilih (yang sama dan yang beda).
Mengidentifikasi (contoh), mengklasifikasi (ke dalam kategori).
Menunjukkan, memprediksi, menjabarkan.
Menghasilkan (penyelesaian satu masalah), memcahkan.

Memilih Kegiatan Instruksional

Kaitan antara Tahapan Belajar dengan Peristiwa Pembelajaran
Deskripsi
Tahapan Belajar
Kegiatan Pembelajaran
Persiapan belajar
1.    Mengarahkan perhatian.




2.    Ekspektasi.

3.    Retrieval (pengambilan informasi dan/atau keterampilan yang relevan) untuk dimasukkan ke ingatan kerja.
Menarik perhatian siswa dengan menggunakan kejadian tidak seperti biasanyam pertanyaan atau perubahan stimulus.
Memberitahu tujuan belajar kepada pemelajar.
Merangsang ingatan atas belajar yang telah dipelajari sebelumnya.
Akuisisi dan kinerja
4.    Persepsi selektif atas ciri stimulus.
5.    Penyandian semantik.

6.    Retrieval dan respons.

7.    Penguatan.
Menyajikan stimulus dengan ciri yang berbeda.
Memberikan bimbingan belajar.
Memunculkan kinerja.
Memberi balikan informatif.
Transfer Belajar
8.    Pemberian petunjuk retrieval.
9.    Generalisasi.
Menilai perbuatan/kinerja.

Memunculkan kinerja dengan contoh baru.


Pemerolehan dan Kinerja.
          Kegiatan inti dari pembelajaran adalah menyajikan stimulus tertentu, menyediakan pedoman belajar, memunculkan kinerja, dan memberikan tanggapan atau umpan balik (feedback).

Peran Penemuan Terbimbing.
          Siswa dapat merespons seluruh kelompok situasi dengan sekelompok kinerja yang merefleksikan kaitan khusus dengan situasi stimulus. Misalnya, setelah mempelajari penyerdehanaan bilangan pecahan, siswa dapat mengaplikasikan aturan untuk tugas itu dalam setiap situasi.

Retrieval dan Transfer.
          Guru dan perancang pembelajaran memilih pernyataan verbalm pertanyaan, objek, diagram, dan stimuli lainnya untuk menstimulasi pemrosesan informasi secara internal oleh pemelajar.

Keterterapan dalam Berbagai Ragam Belajar.
          Peristiwa untuk tujuan kinerja pada umumnya dipilih berdasarkan ragam belajar yang dipresentasikan oleh tujuan. Tetapi mengingat keragaman siswa serta kompleksitas informasi, keterampilan, strategi, atau sikap yang hendak dipelajari, peristiwa pembelajaran ini diberikan sesuai keperluan.

Peran Media dalam Pembelajaran
          Model seleksi media berguna untuk mengembangkan pemikiran seseorang tentang berbagai macam media untuk pembelajaran. Seseorang tidak memilih media lebih dulu, seperti televisi atau computer, dan kemudian mendesain pembelajaran, sebaliknya, media dipilih yang sesuai dengan persyaratan dari kegiatan pembelajaran tertentu.

Merancang Pembelajaran untuk Keterampilan yang Kompleks

Rancangan Pembelajaran untuk Prosedur
Langkah pertama dalam mengembangkan pembelajaran untuk keterampilan yang kompleks adalah menentukan keterampilan yang akan diajarkan.  Keterampilan motorik dalam urutan ini kemudian dianalisi menjadi bagian-bagian ketermapilan yang juga mungkin perlu diajarkan. Untuk beberapa prosedur, pilihan antara langkah-langkah alternatif mungkin akan diperlukan. Setelah keterampilan, bagian keterampilan, dan keterampilan intelektual diidentifikasi, jenis kapabilitas dari masing-masing keterampilan akan diidentifikasi. Tujuan kinerja kemudian ditulis untuk setiap keterampilan dan dirancanglah pembelajaran untuk seperangkat tujuan.

Rancangan Pemebelajarna untuk Hirarki Belajar
Bagian dalam bab tentang hakikat belajar kompleks ini membahas analisis tugas belajar, metode menyusun hierarki belajar.pertanyaan tentang “keterampilan sederhana apa yang penting untuk keterampilan saat ini”, diaplikasikan pertama kali ke hampir semua keterampilan kompleks yang diajarkan, dan kemudian ke keterampilan lain yang teridentifikasi.

Analisi Tugas Kognitif
Analisis tugas kognitif, yang adalah perluasan dari analisa tugas tradisional, digunakan untuk menangani analisi proses mental, pengetahuan dan tujuan, serta keputusan yang mendasari berbagai tindakan yang diamati. Langkah utama dalam analisis tugas :
1.      Mengumpulkan informasi awal
2.      Mengidentifikasi representasi pengetahuan
3.      Mengimplementasikan teknik untuk memunculkan pengetahuan
4.      Menganalisis dan memverifikasi data
5.      Memformat hasil untuk digunakan
 
Aplikasi Pendidikan

Isu Kelas
Pendekatan Gagne untuk analisis belajar adalah dari perspektif kebutuhan pembelajaran. Akibatnya, karyanya membahas beberapa isu penting dalam kelas.

Karakteristik Pemelajar
Perbedaan Individual. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa macam perbedaan individual antarsiswa.termasuk didalamnya adalah perbedaan strategi kognitif dan tingkat belajar. Tetapi, yang paling penting adalah perbedaan dalam kapabilitas awal siswa, yaitu materi mentah yang menjadi garapan pembelajaran (Gagne, 1974a, h. 125). Mereka dapat dinilai pada awal tahun ajaran sekolah atau awal pelajaran. Untuk memperkecil hal ini, dapat dilakukan pembelajaran kelompok kecil, tutorial, dan diindividualisasikan.
Motivasi. Mendesain pembelajaran yang efektif mencakup identifikasi motif siswa dan penyaluran motif itu ke kegiatan yang produktif dalam rangka mencapau tuuan belajar (Gagne 1974a).

Proses Kognitif dan Pembelajaran
Transfer Belajar. Prasyarat esensial dalam keterampilan intelektual membantu transfer melalui 2 cara, kontribusi pada upaya mempelajari urutan lebih tinggi dan menggeneralisasikan ke situasi lain. Pada akhir belajar, situasi baru disajikan ke siswa untuk memastikan bahwa pencapaian belajar baru mereka tidak terbatas pada situasi.
Keterampilan “Bagaimana Cara Belajar”. Keterampilan ini adalah strategi kognitif, dimana siswa memakainya untuk mengelola belajarnya, mengingat, dan berpikir.
Pengajaran Pemecahan Masalah. Dalam strategi kognitif, pemelajar menciptakan sendiri solusi yang mungkin membutuhkan seleksi informasi dari berbagai macam sumber dan kombinasi informasi dengan cara baru.

Implikassi untuk Asesmen
Kapabilitas kelompok kinerja manusia itu unik, yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
Konteks Sosial untuk Belajar
Gagne memfokuskan pada rancangan sistem pembelajaran ketimbang pada pengembangan model pembelajaran. Perbedaan utamanya adalah model pembelajaran meletakkan guru atau individu pada peran pelaku atau pengelola konstruksi untuk beberapa kelompok belajar yang teridentifikasi. Sistem pembelajaran sebaliknya, sering mencakup seperangkat materi dan aktivitas yang dengannya langkah dan manajemen pembelajaran berada pada diri pemelajar.

Mengembangkan Strategi Kelas

Model Perancangan Sistem
Ciri-cirinya pembelajarannya :
1.      Dirancang untuk tujuan dan sasaran spesifik
2.      Pengembangannya menggunakan media dan teknologi pembelajaran lain.
3.      Uji coba, revisi material, dan pengujian lapangan atas material yang merupakan bagian integral dari proses perancangan.
Kaitan antara belajar pada tingkat pembelajran dan pelajaran diilustrasikan dengan tujuan berikut :
1.      Tujuan peajaran : siswa dapat menganalisis secara kritis kegiatan dan situasi dalam sistem pengadilan, pemerintah, ekonomi dan politik suatau negara, yang konsisten dengan prioritas yang diidentifikasi negara itu.
2.      Tujuan unit : siswa daat menunjukkan hubungan antara sistem politik dengan ekonomi.
3.      Subketerampilan spesifik : siswa bisa mengklasifikasikan sistem sebagai politik atau ekonomi.

Merancang Pelajaran
Langkah 1 : menulis atau memilih tujuam kerja
Langkah 2 : memilih kegiatan pembelajaran untuk masing-masing tujuan kerja
Langkah 3 : memilih media untuk kegiatan pembelajaran
Langkah 4 : mengembangkan tes untuk ujian

Kelemahan
Gagne mengembangkan teori kondisi belajar untuk menjelaskan berbagai macam proses psikologi dan terlihat didalam riset tentang belajar sebelmnya dan untuk menspesifikasi dengan tepat uruta kegiatan pembelajaran untuk proses yang teridentifikasi. Jadi teori ini lebih mudah untuk tim perancang kurikulum ketimbang untuk dipakai guru dikelas.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamis, 21 Juni 2012

Evaluasi Mata Kuliah Paedagogi

0 komentar

Paedagogi adalah mata kuliah pertama disetiap minggu. Karena jadwal kuliah setiap pagi pada hari senin dan selalu membuka semangat baru untuk menjalani hari-hari disetiap minggunya. Berikut beberapa paparan mengenai mata kuliah ini :D

Kesan
Dari awal saya meneguhkan hati untuk memilih mata kuliah paedagogi sebagai mata kuliah pilihan saya, saya telah menyadari, pasti ada pengalaman baru yang akan saya dapatkan. Dan benar saja, micro teaching menjadi pengalaman yang menarik untuk saya. Sampai saat ini, saya tetap menganggap bahwa guru, dosen, atau apalah istilahnya, yang mengajar dan mendidik anak ataupun siswanya adalah pekerjaan yang paling memiliki tanggung jawab yang besar. Karena ditangan mereka, generasi muda dapat belajar dan berkembang. Namun, ketika saya diberi kesempatan untuk melakukan micro teaching, walaupun masih dalam konteks santai, saya merasakan tanggung jawab itu. Tanggung jawab untuk membuat anak mengerti tentang apa yang saya sampaikan, tanggung jawab untuk membuat anak menyenangi apa yang saya ajarkan, dan hal ini merupakan pengalaman berharga untuk saya. Terima kasih Bu Dina telah menghadirkan pengalaman ini untuk kami semua :)

Pesan
Perkuliahan e-learning tetap dijalankan, action plan tetap diterapkan, dan semoga menghadirkan pengalaman-pengalaman baru bagi adik-adik nantinya.

Evaluasi
Saya merasa bahwa kami memang harus distimulus agar kami bertindak. Kami terbiasa berada di kelas besar. Jadi, ketika berada di kelas Bu Dina, ketika Bu Dina mengatakan sesuatu yang ternyata Bu Dina mengharapkan respon, kami tidak merespon itu. Karena biasanya dosen lain tidak mengharapkan banyak respon ketika mereka berbicara, kecuali jika itu pertanyaan seputar bahan kuliah. Saya menyadari, bahwa itu adalah salah satu cara Bu Dina agar kami aktif, terstimuli, dan kelas menjadi hidup. Namun, kesalahan memang terletak di kami dan saya menyadari itu. Salah satu konsekuensi yang kami terima adalah ketika Bu Dina meninggalkan kelas yang membuat kami semua tercengang dan berusaha untuk memperbaiki diri di kuliah selanjutnya.

Kritik
Bu Dina adalah dosen yang memang memiliki pemikiran dan wawasan luas. Terkadang pertanyaan yang Bu Dina tuturkan kepada kami sulit saya pahami bahasa dan juga maksudnya, sehingga saya sulit untuk mengerti apa jawaban sebenarnya yang ibu harapkan.

Saran
Bu Dina… kasih pertanyaan dengan kalimat dan kata yang lebih simple. Agar maksud dari pertanyaan dan juga jawaban yang diharapkan bisa saya prediksi. Hehe.

Sekian evaluasi tentang mk Paedagogi. Terima kasih Bu Dina karena telah sabar dalam mengajar kami. Terima kasih juga telah meluangkan banyaaaaaaaaakkkkkkk waktunya untuk terus dan terus membaca posting blog kami, dan bahkan dapat memberikan feedback terhadap blog kami. Saya akhiri tulisan saya yang panjang ini dengan mengucapkan terima kasih :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Minggu, 17 Juni 2012

UAS PAEDAGOGI TA 2011-2012

6 komentar
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sabtu, 02 Juni 2012

Review Presentasi Micro teaching

0 komentar
  • Pertanyaan:
1. Mengapa kelompok memilih games yang demikian, jika dikaitkan dengan mata pelajaran bahasa Inggris yang dipilih kelompok untuk diajarkan ke anak didik? Mengapa menggunakan gambar saat menjalankan proses micro teaching?
Kelompok tidak mengaitkan pemberian games dengan mata pelajaran bahasa Inggris yang diajarkan. Keduanya memiliki tujuan masing-masing. Dimana, pemberian pelajaran bahasa Inggris sebagai upaya pemberian tambahan belajar bahasa Inggris selain di sekolah. Selain itu, anak didik lebih termotivasi belajar bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Berbeda dengan tujuan belajar bahasa Inggris, games ini dipilih untuk melatih kekompakan, bekerja dalam tim, dan kecepatan.
Walaupun ada 2 anak yang sudah duduk di kelas 1 SMP ikut serta dalam kegiatan microteaching ini, mereka tidak merasa risih dengan metode penggunaan gambar saat pengajaran bahasa Inggris berlangsung. Media gambar sebenarnya cocok untuk anak dari berbagai usia, tidak hanya untuk anak usia dini saja. Mengajari kosakata bahasa Inggris melalui media gambar, akan membantu murid untuk lebih mudah mengingat kosakata tersebut. Misalnya kosakata ‘artist’, anak-anak sebagian besar akan mengira bahwa artinya adalah artis/aktor, padahal arti sebenarnya adalah seniman. Dengan adanya gambar seseorang yang berada di depan kanvas, yang memegang kuas di satu tangan dan memegang piring cat di tangan satunya lagi, akan semakin mempermudah anak-anak untuk mengingat arti dari kosakata tersebut, karena otak kanan juga turut berperan di sini.

2. Pada tujuan dari micro teaching disebutkan bahwa kelompok memotivasi peserta untuk belajar bahasa inggris, apa realisasinya?
Pada praktiknya, kami memang tidak terlalu memunculkan bagaimana kami memotivasi secara nyata. Namun, kelompok membuat pelajaran bahasa Inggris tersebut menjadi sesuatu yang menarik sehingga mind set mereka yang menganggap kalau Inggris itu tidak seru kita ubah menjadi pikiran yang menganggap kalau bahasa Inggris merupakan pelajaran yang menarik untuk dipelajari. Kemudian, untuk anak-anak yang mengganggap kalau pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran yang terlalu mudah ataupun menyepelekannya, kelompok berusaha mengubah pikiran tersebut bahwa ternyata pelajaran bahwa pelajaran bahasa Inggris bukan pelajaran yang sekedar mengetahui bahasa tanpa arti, atau mengetahui arti tanpa mengetahui kata-katanya ketika dieja, bahkan dibutuhkan pemahaman yang mendalam sampai kepada struktur dari sebuah kata, bagaimana cara mengeja, bagaimana ketika dibaca, kemudian bagaimana bentuknya di dalam kehidupan nyata, sampai bagaimana kata tersebut menjadi sebuah bagian dari kalimat sampai kepada bagian dari sebuah percakapan (conversation). Ditambah lagi, kelompok juga memotivasi peserta dengan terlebih dahulu menyampaikan apa cita-cita mereka dan sesekali memberikan pujian terhadap cita-cita mereka tersebut.

3.  Kelompok memberi reward ekstra pada anak yang mau menjawab pertanyaan namun memberinya juga pada anak yang tidak mau menjawab pertanyaan yang kelompoik anggap itu sebagai cara untuk membujuk. Kenapa kelompok melakukannya? Bukankah terkesan sama saja?
Kelompok melakukan itu dengan maksud menunjukkan bahwa ini semua proses belajar yang dialami bersama. Peserta didik juga tentunya ingin diperlakukan sama karena tidak semua anak berani tampil dan kami mengerti itu. Namun kembali ke esensi dari micro teaching ini kalau kami hanya membiarkan anak itu terus berdiam diri tanpa mendapatkan apa-apa, sama saja nol. Maka dari itu, kami berusaha membujuknya dengan cara memberi reward ekstra agar mereka semua bisa belajar bersama.

Pada mulanya, partisipan kegiatan ini berjumlah 8 orang. Sampai di tengah pelajaran (sekitar 20 menit setelah pengajaran berlangsung), ada tambahan 3 orang partisipan lagi. Mereka agak telat bergabung karena harus latihan nyanyi terlebih dulu di lantai atas. Kami meminta mereka untuk maju memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum duduk. Awalnya mereka masih bingung pelajaran apa yang sedang berlangsung. Tetapi tidak sampai 5 menit, mereka sudah mampu beradaptasi dan ikut menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh pengajar.

Kelompok tidak memperkirakan ternyata ada 2 partisipan yang sudah duduk di kelas 1 SMP. Walaupun demikian, kami tetap berusaha untuk menyemangati mereka agar turut aktif dalam kegiatan microteaching ini. Pendekatan kepada mereka dilakukan secara lebih pribadi, misalnya salah seorang anggota (yang tidak sedang mengajar di depan) mendekati mereka satu per satu dan memberi mereka semangat untuk menjawab pertanyaan. Meskipun pada awalnya mereka masih malu-malu, tapi dengan adanya motivasi yang terus menerus dari anggota, akhirnya mereka berani juga untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 
Copyright © Ocha's Blog