Sabtu, 02 Juni 2012

Review Presentasi Micro teaching

  • Pertanyaan:
1. Mengapa kelompok memilih games yang demikian, jika dikaitkan dengan mata pelajaran bahasa Inggris yang dipilih kelompok untuk diajarkan ke anak didik? Mengapa menggunakan gambar saat menjalankan proses micro teaching?
Kelompok tidak mengaitkan pemberian games dengan mata pelajaran bahasa Inggris yang diajarkan. Keduanya memiliki tujuan masing-masing. Dimana, pemberian pelajaran bahasa Inggris sebagai upaya pemberian tambahan belajar bahasa Inggris selain di sekolah. Selain itu, anak didik lebih termotivasi belajar bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Berbeda dengan tujuan belajar bahasa Inggris, games ini dipilih untuk melatih kekompakan, bekerja dalam tim, dan kecepatan.
Walaupun ada 2 anak yang sudah duduk di kelas 1 SMP ikut serta dalam kegiatan microteaching ini, mereka tidak merasa risih dengan metode penggunaan gambar saat pengajaran bahasa Inggris berlangsung. Media gambar sebenarnya cocok untuk anak dari berbagai usia, tidak hanya untuk anak usia dini saja. Mengajari kosakata bahasa Inggris melalui media gambar, akan membantu murid untuk lebih mudah mengingat kosakata tersebut. Misalnya kosakata ‘artist’, anak-anak sebagian besar akan mengira bahwa artinya adalah artis/aktor, padahal arti sebenarnya adalah seniman. Dengan adanya gambar seseorang yang berada di depan kanvas, yang memegang kuas di satu tangan dan memegang piring cat di tangan satunya lagi, akan semakin mempermudah anak-anak untuk mengingat arti dari kosakata tersebut, karena otak kanan juga turut berperan di sini.

2. Pada tujuan dari micro teaching disebutkan bahwa kelompok memotivasi peserta untuk belajar bahasa inggris, apa realisasinya?
Pada praktiknya, kami memang tidak terlalu memunculkan bagaimana kami memotivasi secara nyata. Namun, kelompok membuat pelajaran bahasa Inggris tersebut menjadi sesuatu yang menarik sehingga mind set mereka yang menganggap kalau Inggris itu tidak seru kita ubah menjadi pikiran yang menganggap kalau bahasa Inggris merupakan pelajaran yang menarik untuk dipelajari. Kemudian, untuk anak-anak yang mengganggap kalau pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran yang terlalu mudah ataupun menyepelekannya, kelompok berusaha mengubah pikiran tersebut bahwa ternyata pelajaran bahwa pelajaran bahasa Inggris bukan pelajaran yang sekedar mengetahui bahasa tanpa arti, atau mengetahui arti tanpa mengetahui kata-katanya ketika dieja, bahkan dibutuhkan pemahaman yang mendalam sampai kepada struktur dari sebuah kata, bagaimana cara mengeja, bagaimana ketika dibaca, kemudian bagaimana bentuknya di dalam kehidupan nyata, sampai bagaimana kata tersebut menjadi sebuah bagian dari kalimat sampai kepada bagian dari sebuah percakapan (conversation). Ditambah lagi, kelompok juga memotivasi peserta dengan terlebih dahulu menyampaikan apa cita-cita mereka dan sesekali memberikan pujian terhadap cita-cita mereka tersebut.

3.  Kelompok memberi reward ekstra pada anak yang mau menjawab pertanyaan namun memberinya juga pada anak yang tidak mau menjawab pertanyaan yang kelompoik anggap itu sebagai cara untuk membujuk. Kenapa kelompok melakukannya? Bukankah terkesan sama saja?
Kelompok melakukan itu dengan maksud menunjukkan bahwa ini semua proses belajar yang dialami bersama. Peserta didik juga tentunya ingin diperlakukan sama karena tidak semua anak berani tampil dan kami mengerti itu. Namun kembali ke esensi dari micro teaching ini kalau kami hanya membiarkan anak itu terus berdiam diri tanpa mendapatkan apa-apa, sama saja nol. Maka dari itu, kami berusaha membujuknya dengan cara memberi reward ekstra agar mereka semua bisa belajar bersama.

Pada mulanya, partisipan kegiatan ini berjumlah 8 orang. Sampai di tengah pelajaran (sekitar 20 menit setelah pengajaran berlangsung), ada tambahan 3 orang partisipan lagi. Mereka agak telat bergabung karena harus latihan nyanyi terlebih dulu di lantai atas. Kami meminta mereka untuk maju memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum duduk. Awalnya mereka masih bingung pelajaran apa yang sedang berlangsung. Tetapi tidak sampai 5 menit, mereka sudah mampu beradaptasi dan ikut menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh pengajar.

Kelompok tidak memperkirakan ternyata ada 2 partisipan yang sudah duduk di kelas 1 SMP. Walaupun demikian, kami tetap berusaha untuk menyemangati mereka agar turut aktif dalam kegiatan microteaching ini. Pendekatan kepada mereka dilakukan secara lebih pribadi, misalnya salah seorang anggota (yang tidak sedang mengajar di depan) mendekati mereka satu per satu dan memberi mereka semangat untuk menjawab pertanyaan. Meskipun pada awalnya mereka masih malu-malu, tapi dengan adanya motivasi yang terus menerus dari anggota, akhirnya mereka berani juga untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Ocha's Blog