Selasa, 23 Oktober 2012

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan

0 komentar
PENERAPAN PENGAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X2 SMA LABORATORIUM SINGARAJA

I Gusti Agung Nyoman Setiawan
Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas MIPA Undiksha

Abstrak
Penelitian Tindakan Kelas dengan judul Penerapan Pengajaran Kontekstual Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa kelas X2 SMA Laboratorium ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran dan hasil belajar biologi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan interaksi siswa dalam mengikuti pelajaran dan hasil belajar biologi bagi siswa kelas X2 SMA Laboratorium Undiksha.

Pendahuluan
Salah satu tuntutan kurikulum berbasis kompetensi dalam mata pelajaran biologi di SMA adalah agar siswa menguasai berbagai konsep dan prinsip biologi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

Untuk mencapai tujuan agar siswa mempunyai minat dan kemampuan yang baik terhadap biologi berimplikasi pada tugas dan tanggung jawab yang sangat strategis pada guru-guru pengajar biologi di kelas-kelas awal di SMA. Mereka dituntut membantu siswa untuk mendapatkan pemahaman yang baik terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip biologi untuk memudahkan mereka mempelajari biologi di kelas yang lebih tinggi. Di samping itu pengajar di kelas-kelas awal diharapkan dapat menumbuhkan sikap positif terhadap biologi serta membangkitkan minat mereka terhadap biologi. Ini berarti proses pembelajaran biologi yang dilakukan guru hendaknya memungkinkan terjadinya pengembangan pemahaman konsep, sikap, dan meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran biologi.

Pembelajaran berdasarkan masalah sebagai salah satu strategi pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual berupa belajar berbagai peran orang dewasa dan melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pebelajar yang otonom. (Arends, 1997; Arends, 2004; Delisle, 1997). Kemampuan berpikir sudah dimiliki siswa sejak mereka lahir. Makin sering orang berhadapan dengan sesuatu yang menuntutnya untuk berpikir makin berkembang dan makin meningkat kemampuan berpikirnya. Seseorang yang tidak memiliki pendidikan formal sekalipun kemampuan berpikirnya akan meningkat apabila dia sering berhadapan dengan berbagai masalah yang harus dipikirkannya (Depdikbud, 1999). Pembelajaran berdasarkan masalah juga meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan terbuka dengan banyak alternatif jawaban benar dan pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis berupa peningkatan dari pemahaman ke aplikasi, sintesis dan analisis (Kronberg dan Griffin, 2000), dan menjadikannya sebagai pebelajar mandiri (Ommundsen, 2000; Hmelo, 1995).

Metode
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium Undiksha Singaraja pada kelas X2. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli 2006 sampai dengan pertengahan Nopember 2006. Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas X2 SMA Laboratorium Undiksha Singaraja. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil 2006/2007. Penelitian berlangsung selama 6 (enam bulan) dari bulan Juni 2006 s/d bulan Nopember 2006. Pelaksanaan tindakan dilakukan pada bulan Juli 2006 s/d bulan Oktober 2006.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut: (a) Bersama-sama dua orang guru mitra menganalisis kompetensi dasar dan indikator, serta materi yang akan diajarkan dalam rentang waktu Juni s/d Oktober 2006. (b) Bersama guru mitra menyiapkan bahan dan alat laboratorium yang ada serta merancang peralatan yang diperlukan untuk kegiatan demonstrasi atau praktikum. (c) Bersama guru mitra merancang skenario Pengajaran Kontekstuan berbasis masalah. (d) Menyusun rubrik assessmen kegiatan diskusi dan tanya jawab untuk mengukur kualitas interkasi kelas. (e) Menyusun soal-soal akademik maupun realistik untuk digunakan dalam latihan pemecahan masalah maupun dalam test formatif untuk mengukur hasil belajar dalam aspek kognitif. (f) Menyusun rubrik assessment kinerja kegiatan laboratorium untuk mengukur hasil belajar pada aspek psikomotor. (g) Menyusun rubrik untuk mengukur sikap siswa terhadap pelajaran biologi. (h) Melatih guru mengimplementasikan Pengajaran Kontekstual berbasis masalah
Tutorial/Responsi dilakukan setelah tiga kali pertemuan. Pada kegiatan tutorial/responsi siswa dibimbing menyelesaikan masalah-masalah akademik dan realistik secara sistematis. Pemberian dua jenis masalah ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa konsep-konsep yang dipelajari bukan hanya untuk kepentingan akademik tetapi juga untuk mengatasi masalah sehari-hari. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk dapat memvisualisasikan masalah, menyatakan dalam deskripsi fisika, merencanakan solusi, menyelesaikan solusi, dan mengevaluasi jawabannya.

Observasi dilakukan terhadap kesesuaian antara skenario pembalajaran dan implementasinya, pengajaran pemecahan masalah, perhatian dan kesungguhan siswa dalam pembelajaran. Observasi dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan tindakan, dan dilakukan oleh dua orang anggota tim peneliti.

Hasil
Proses penelitian pada siklus I yang membahas ruang lingkup Biologi, manfaat dan bahayanya berlangsung dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama diisi dengan penjelasan tentang kegiatan yang dilakukan dalam mengerjakan LKS berbasis masalah.  Kemudian siswa dituntut untuk memecahkan masalah-masalah autentik serta srukturnya tidak teratur sesuai dengan tujuan pembelajaran (ill structure).

Pelaksanaan siswa dalam membahas masalah tersebut banyak mengalami kesulitan guru beserta peneliti ikut membantu ke masing-masing kelompok dalam mengarahkan apa yang harus mereka pikirkan dan bahas sehubungan dengan masalah tersebut yang muaranya mengetahui ruang lingkup biologi manfaat dan bahayanya, baik itu dari uraian cabang-cabang biologi maupun dari struktur tingkat organisasi biologi dari sel sampai biosfer. Bimbingan yang dilakukan tidak langsung memberikan jawaban atas masalah yang dibahas akan tetapi berupa alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Dengan cara seperti itu siswa akhirnya selalu berpikir untuk memecahkan masalah atau mencari jawaban atas masalah yang sedang dihadapi.

Pada pertemuan kedua pelaksanaan kerja kelompok berjalan lebih lancar, siswa terlihat lebih banyak bekerja dibandingkan bertanya. Ini menunjukkan apa yang harus dikerjakan telah dimengerti. Dari diskusi yang dilakukan diketahui kelompok mana yang penguasaan materinya paling bagus. Kriteria yang digunakan dalam menilai adalah hasil kerja kelompok dan kemampuan menjawab pertanyaan dari kelompok lain maupun dari guru. Akhir dari kegiatan ini adalah siswa bersama guru menyimpulkan dan menyempurnakan jawaban siswa. Kemudian Guru mengecek penguasaan materi ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada beberapa siswa.

Pelaksanaan siklus kedua yang direncanakan tiga kali pertemuan, realisasinya hanya dua kali pertemuan. Proses diskusi kelompok berjalan lebih lancar dibandingkan dengan kegiatan pada siklus satu, melalui bimbingan siswa selanjutnya membuat sejumlah masalah yang membahas tentang keanekaragaman hayati mulai dari keanekaragaman tingkat jenis, sampai keanekaragaman tingkat ekosistem. Siswa disuruh mengurutkan prioritas pemecahan masalah sesuai dengan kesepakatan kelompok, apakah mulai dari keanekaragaman tingkat jenis atau mulai dari keanekaragaman tingkat ekosistem.

Pada diskusi ini, lebih banyak masalah diseputar topik yang disampaikan dibandingkan dengan diskusi pada siklus pertama. Dari banyaknya masalah yang disampaikan serta lebih banyak siswa berpartisipasi menandakan proses belajar berbasis masalah telah berlangsung lebih baik. Walaupun keterlibatan sudah lebih banyak dan masalah lebih beragam, namun tingkat kesulitan masalah serta pembahasan dari siswa perlu ditingkatkan. Disinilah peran guru untuk mengarahkan sehingga siswa selalu berpikir untuk membahas masalah lebih dalam dan alternatif pemecahan masalah lebih beragam.

Pada pertemuan kedua siklus II ini siswa diberikan LKS berupa pengelompokan makhluk hidup berdasarkan ciri yang ditentukan oleh kelompok siswa tersebut.
Pada Siklus ketiga yang direncanakan dilaksanakan dalam delapan kali tatap muka untuk keseluruhan materi sampai akhir semester

Pada pelaksanaan tatap muka kedua siklus III ini yang membahas Monera utamanya bakteri diberikan LKS berupa penyakit Kelamin Spilis dan LKS berupa pemanfaatan mikroba khususnya bakteri pada pembersihan air limbah, maupun penggunaan EM4 (Effective microorganism) yang membantu proses perombakan bahan organik dalam tanah sehingga mengurangi penggunaan pupuk buatan. Dari masalah-masalah tersebut siswa menjadi mengerti mikroorganisma tersebut yang langsung bermanfaat bagi kehidupan sehari-harinya, sehingga belajar menjadi lebih bermakna. Proses kerja kelompok menjadi lebih serius karena siswa mengerjakan apa yang dia belum ketahui menjadi terpikirkan oleh siswa. Guru memberikan penjelasan secara ringkas prinsip-prinsipnya kemudian contoh pengembangannya ditugaskan pada siswa untuk mencarinya.

Pembahasan
Berdasarkan diskripsi proses dan hasil penelitian di atas dapat dikemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah yang digunakan sebagai solusi untuk meningkatkan penguasaan konsep telah menunjukkan hasilnya. Pembelajaran yang diseting dalam kerja kelompok dalam karangka memecahkan masalah telah mampu menunjukkan hasil yang sangat baik. Hal ini diakibatkan karena proses pengkonstruksian pengetahuan dilakukan secara bersama-sama menggantikan proses pembelajaran klasikal dengan sistem ceramah yang proses pengkonstruksian pengetahuan dilakukan sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang ditangkap oleh siswa secara individu. Pengkonstruksian pengetahuan secara bersama-sama melalui kerja kelompok memungkinkan siswa dapat meng-ungkapkan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain dan secara bersama-sama membangun pengertian (Von Glasersfeld, 1989 dalam Pannen et al., 2001). Ride-way dan Padilla, (1998) menyatakan bahwa melalui diskusi yang dilakukan bersa-ma-sama dalam satu kelompok merupakan panduan dalam meningkatkan kemam-puan berpikirnya. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa proses berpikir siswa dilakukan melalui diskusi. Diskusi yang aktif tentu melibatkan semua anggota kelompok yang sedang berdiskusi. Kebiasaan yang selalu dilatih melalui kegiatan kerja bersama memungkinkan kemampuan siswa tidak terlalu jauh berbeda. Trautmann et al (2000) mengatakan bahwa penyelidikan bersama-sama mening-katkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mendiskusikan setiap asumsi dan interpretasi yang dimilikinya. Dengan melakukan interpretasi secara bersama-sama pandangan terhadap suatu masalah menjadi sama sehingga jika semua kegiatan dilakukan seperti ini maka secara otomatis semua pengetahunan yang dimiliki oleh siswa menjadi sama.

Wang et al (1998) berpendapat bahwa belajar kelompok sangat penting dalam pembelajaran berdasarkan masalah. Dalam kerja kelompok setiap siswa yang menjadi anggota kelompok mendapatkan tanggung jawab dalam kesuksesan kelompoknya. Mereka saling membantu untuk mengetahui dimana, apa dan ba-gaimana mereka mempelajari informasi itu. Dengan demikian pembentukan ke-lompok dalam strategi pembelajaran berdasarkan masalah menjadikan siswa pebe-lajar yang aktif, karena setiap anggota kelompok memegang tanggung jawab ter-tentu untuk kesusksesan kelompoknya.

Dalam pembelajaran berdasarkan masalah yang membahas masalah autentik dengan struktur yang kompleks dan tidak teratur jarang ditemukan langkah yang sama dalam pemecahannya. Siswa selalu diajak berpikir bagaimana menemukan jalan keluar melalui langkah kunci. Masalah autentik sesungguhnya berubah-ubah pada tujuan, isi, rentangan, dan pengaruhnya tidak linier. Latihan-latih-an memecahkan masalah autentik ini menjadikan siswa selalu memberdayakan kemampuan berpikirnya dan menjadikan siswa mempunyai kemampuan berpikir yang lebih tinggi sehingga mampu memecahkan masalah riil dan mengkaitkannya dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai(Jones, 1996).

Pembelajaran berdasarkan masalah juga meningkatkan kemampuan men-jawab pertanyaan terbuka dengan banyak alternatif jawaban benar dan pada akhir-nya mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis berupa peningkatan dari pemahaman ke aplikasi, sintesis dan analisis (Kronberg dan Griffin, 2000), dan menjadikannya sebagai pebelajar mandiri (Ommundsen, 2000; Hmelo, 1995). Sedangkan Liliasari (2001) menyatakan bahwa model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan berpikir konseptual tingkat tinggi calon guru IPA, dikatagorikan menjadi dua kelompok yaitu untuk materi yang bersifat teoritis menggunakan metode diskusi sedangkan untuk materi yang ada kegiatan praktikumnya menggunakan metode pemecahan masalah dan penemuan.

Simpulan
Berdasarkan deskripsi proses, dan deskripsi produk, dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik simpulan-simpulan (1) terjadi peningkatan aktivital belajar siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai hasil kerja kelompok dari siklus I, siklus II, dan siklus III, (2) terjadi peningkatan penguasaan konsep-konsep biologi mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III, yang berarti bahwa terhadi peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi.

Berdasarkan simpulan-simpulan tersebut, disarankan pada guru untuk menggunakan skenario seperti pada penelitian ini jika ingin mengaktifkan kinerja siswa untuk meningkatkan penguasaan konsep-konsep mata pelajaran, khususnya Biologi. Dalam merancang masalah yang akan diangkat supaya mempertimbangkan masalah yang mampu meningkatkan kreatifitas anak dan meningkatkan keterlibatan siswa sesuai dengan tingkat kemampuan kognitifnya. Di samping itu diharapkan agar dalam menerapkan pembelajaran ini disarankan melibatkan dukungan semua pihak sehingga segala sesuatu berjalan optimal.

Sumber jurnal :


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rabu, 10 Oktober 2012

Evaluasi Pembelajaran dengan Teori Skinner

2 komentar

            Ketika Bu Dina masuk, kami langsung disuruh untuk duduk berjauhan dan dibagi kedalam 2 kelompok, A dan B. Bu Dina membagikan pada kami 2 sertifikat dan selembar kertas HVS kosong. Bu Dina menginstruksikan untuk membuat produk dari ketiga hal ini. Bu Dini juga berjanji akan memberikan hadiah pada 3 terbaik di kelompok A dan 3 terbaik di kelompok B.

            Awalnya saya belum mengerti instruksi dari Bu Dina. Namun, ketika perhatian saya tertuju pada sertifikat yang dibagikan. Karena minggu ini kami belajar tentang teori Skinner, maka yang terlintas pertama kali dalam pikiran saya adalah menghubungkan sertifikat ini dengan teori reinforcement Skinner. Setelah itu kami diminta untuk menilai hasil kerja teman kami. Ternyata banyak yang membuat produk-produk ataupun uraian mengenai tema sertifikat. Barulah sadar, kalau yang saya buat tadi sangat tidak kreatif. Haha. Jika saya mengetahui dan sadar akan instruksi tadi, pasti saya akan membuat yang lebih baik. Haha.

            Jika dihubungkan dengan teori Skinner. Usaha Bu Dina untuk memberikan reward kepada teman-teman yang memiliki produk terbaik dan hal itu dilakukan didepan kelas dan disaksikan oleh teman-teman, menjadi reinforcement positif bagi orang yang menerimanya. Dimana, reinforcement itu dilakukan agar memunculkan perilaku yang diinginkan. Dalam hal ini, perilaku yang diharapkan adalah terus menggali kreativitas dan berpikir kritis.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selasa, 09 Oktober 2012

Analisa Pengalaman Pribadi Degan Teori Skinner

0 komentar

Teori Skinner mengungkapkan bahwa ada jenis penguatan positif dan penguatan negatif. Pengalaman pertama saya dapat dijelaskan dengan penguatan positif, dimana ketika untuk pertama kalinya saya memasak, masakan saya dimakan oleh kedua orang tua saya dan abang saya. Mereka memuji masakan saya dan memakannya dengan lahap. Dalam teori Skinner, pujian dari keluarga diikuti dengan lahapnya ketika mereka makan, menjadi penguat positif bagi saya. Dimana penguatan positif ini adalah konsekuensi positif yang diberikan agar menguatkan perilaku. Sehingga apa yang dilakukan oleh keluarga saya ini menguatkan perilaku saya yaitu memasak untuk keluarga saya.

Pengalaman saya kedua dapat dijelaskan dengan konsep penguatan negatif, dimana waktu SMP saya termasuk anak yang malas makan. Hal itu menyebabkan saya tumbuh menjadi anak yang kurus. Karena saya malas makan, mama saya bahkan harus menyuruh saya makan. Terkadang, suruhan itu tidak laksanakan, sehingga mama akan terus mengoceh dan menyuruh saya makan. Dalam teori Skinner, ocehan mama saya menjadi penguatan negatif bagi saya. Penguatan negatif ini sendiri diberikan dengan tujuan menguatkan perilaku yang diharapkan. Dalam hal ini, ketika saya makan, ocehan berhenti. Jadi ocehan akan berhenti ketika perilaku yang diinginkan, yaitu makan, dilakukan.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Minggu, 07 Oktober 2012

Analisi Film Kinky Boots

0 komentar

(10-005) Cut Rafyqa F
(10-010) Rosa Mentari P
(10-060) Ahmad Fauzi


Charlie Price, setelah ditinggal ayahnya meninggal baru menyadari bahwa pabriknya dalam keadaan sekarat. Kemudian muncul Lauren sang pemberi semangat, salah satu karyawannya yang akan dipecat, hingga memicu Charlie untuk berpikir keras menyelamatkan Prince&Son yang sudah lama berdiri sejak akhir abad 19. Akhirnya Charlie bertemu dengan seorang waria yang bernama Lola alias Simon. Charlie akhirnya mempunyai ide untuk membuat sepatu khusus untuk para waria dengan Lola sebagai perancangnya. Charlie pun jatuh bangun dalam usaha membangkitkan perusahaannya.

Film ini memberi inspirasi bagi semuaorang untuk tidak menyerah darikeadaan yang sangat sulit, karena seperti pepatah, ada banyak jalan menuju roma, tinggal bagaimana kita berusaha.

Pembahasan:
Film ini dapat dikaitkan dengan teori Gestalt dimana salah satu asumsi dasar perspektif gestalt mengatakan bahwa organisme merespon keseluruhan sensoris yang tersegregasi atau gestalten ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian yang terpisah atau independen. Dalam kaitannya dengan kasus yang terjadi pada Charli dalam film Kinky Boots, Charlie mengalami kejadian-kejadian yang membuat dia down, mulai dari ayahnya meninggal perusahaannya terancam bangkrut, dan pegawainya terpaksa di PHK. Disini Charlie memandang kejadian-kejadian ini dalam satu kesatuan dimana ia menjadi sedih dan putus asa. Selain itu asumsi keempat Gestalt mengatakan bahwa organisasi atau susunan dari stimuli di lingkungan itu sendiri adalah suatu proses, dan proses ini memengaruhi persepsi individu.  Dimana dalam film ini salah satu pegawai yang akan di PHK oleh Charlie, Lauren sang pemberi semangat mengatakan "ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan?” Kata-kata ini memicu Charlie untuk bangkit kembali lalu mengubah persepsinya dan berpikir keras untuk menyelamatkan perusahaan dan karyawannya.

            Pendekatan lain yang kami gunakan adalah Teori Thorndike, yaitu tiga hukum belajar. Pertama, hukum efek (law of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang dialami individu akan memengaruhi individu bertindak. Dalam hal Lola sempat menolak desain yang dibuat oleh Charlie, hal inilah yang membuat Charlie tidak pantang menyerah dan terus mencoba. Yang kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan respon yang benar. Kegagalan, penolakan, dan jatuh bangun Charlie dalam membangun kembali perusahaannya, membuat Charlie menjadi orang yang lebih tegar dan mampu menganalisis kesalahan dimasa lampau sehingga dapat membuat sepatu yang akhirnya diminati dan laku di pasaran.

Yang ketiga, hukum kesiapan (law of readiness), dimana pelaksanaan tindakan dalam, merespons impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan perintangan tindakan atau memaksakannya dalam kondisi lain adalah menjengkelkan. Dalam film ini, Charlie akan merespon kondisi dimana Lola menolak untuk bekerja dan mendesain sepatunya dengan perasaan kesal dan menjengkelkan. Namun, Lola akhirmya bersedia untuk mendesain dan bekerja di perusahaan Charlie, sehingga kondisi ini direspon memuaskan dan senang.

            Kesimpulannya, film ini dapat dijelaskan dengan teori-teori belajar, dimana lingkungan dan penglaman dapat membuat respons baru dan juga dapat menguatkan respons yang sudah ada.

Daftar Pustaka:
Gredler, Margareth E. 2011. Learning and Instruction: Teori dan Aplikasi, Ed. 6, Cet. 1. Jakarta: Prenada Group.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selasa, 02 Oktober 2012

Teori-Teori Belajar Awal

0 komentar

(10-005) Cut Rafyqa F
(10-010) Rosa Mentari P
(10-060) Ahmad Fauzi

PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
Argumen Dasar Behaviorisme
John Watson berpendapat bahwa semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya. Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar, yaitu :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik). Contoh reaksi behavioral yang diteliti oleh periset awal antara lain gerak refleks, reaksi emosional yang dapat dilihat, dna respons motor (gerak) dan verbal
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut
Pavlov dan Pengkondisian Klasik
Pavlov adalah seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti refleks keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, sedemikian menurut kisahnya, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
            Dalam relasi alamiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS) atau stimulus yang tidak dikondisikan, dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan. Dalam relasi yang baru, yang terbentuk sebagai hasil dari training, stimulus baru disebut conditioned stimulus (CS). Reaksi yang terlatih merespons stimulus baru disebut conditioned response (CR). Berikut prosesnya :
Makanan (UCS) menghasilkan Saliva/keluarnya air liur (UCR)
Suara garpu tidak menghasilkan saliva (tidak keluar air liur)
Makanan (UCS) + suara garpu (CS) menghasilkan Saliva (UCR)
Suara garpu (CS) menghasilkan Saliva (CR)
Teori Emosi
Watson mngidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat maluriah. Artinya, reaksi itu terjadi secara alami, yaitu cinta, marah, dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917).
Eksperimen Pengkondisian terhadap Albert
John Watson mengidentifikasi ada tiga reaksi emosional alamiah pada bayi yaitu cinta, takut, dan marah. menurutnya, emosi individu melibatkan pengkondisian dari tiga reaksi emosi tersebut. Watson melakukan eksperimen terhadap Albert, 11 bulan untuk mengkondisikan rasa takutnya terhadap objek yang berbulu halus.
Reaksi positif dan negatif dapat dikondisikan terhadap berbagai objek atau kejadian. Reaksi parental terhadap suatu objek juga dapat mempengaruhi reaksi emosi anak terhadap objek tersebut (suka atau takut). Reaksi emosional juga dapat terjadi dengan satu kali pemasangan stimuli saja. Misalnya ketika seseorang hendak kecelakaan di simpang tiga jalan, sehingga detak jantungnya menjadi cepat, keringat dingin, dan ketika dia melewati simpang tersebut di lain waktu, dia juga mengalami reaksi psikologis yang sama kembali. Di dalam kelas munculkan suatu yang dapat menimbulkan reaksi positif terhadap suatu tindakan. Misalnya,menempatkan karpet di sudut kelas agar dapat tercipta tempat membaca yang nyaman sehingga menimbulkan reaksi positif terhadap kegiatan membaca tersebut. Guru harus bisa dan pintar untuk menyiapkan strategi-strategi khusus agar anak terhindar dari reaksi negative yang ditimbulkan karena suatu kegiatan. Sehingga tidak ada transfer reaksi emosional yang negative dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya di kelas. 

Pengkondisian Klasik di Ruang Kelas
Salah satu strategi adalah menggunakan relasi yang sudah ada yang menimbulkan reaksi positif. Misalnya, membaca adalah aktivitas penting dalam proses belajar guna memahami sastra. Menempatkan karpet di satu sudut ruangan menimbulkan reaksi positif dalam pengalaman membaca.
Strategi semacam itu terutama penting dalam situasi dimana latar atau aktivitas khusus diperkirakan akan menimbulkan reaksi negatif. Misalnya, bagi beberapa anak, situasi yang asing akan menyebabkan reaksi cemas. Memperkenalkan aktivitas yang sulit, seperti pelajaran matematika, di hari pertama sekolah mungkin akan menimbulkan asosiasi reaksi cemas terhadap matematika. Strategi positif yang tampak di beberapa kelas sekolah dasar diantaranya adalah menyambut anak dengn hangat saat mereka datang dan mengawali pelajaran dengan aktivitas menggambar atau mewarnai. Selain itu, tidak ada aktivitas sulit yang diperkenalkan selama minggu pertama saat anak-anak sedang membiasakan diri dengan aktivitas di ruang kelas. Guru mengurangi potensi kecemasan dengan memasangkan latar yang tidak terbiasa dengan aktivitas yang menyenangkan.

Kooneksionisme Edward Thorndike
Teori thorndike biasa dirujuk sebagai teori behavioris namun berbeda dengan pengkondisian klisik. Pertama, Thorndike berfokus pada proses mental dan kedua pada perilaku mandiri.
Thorndike memilih bereksperimen dengan kondisi terkontrol. Dalam penelitiannya,hewan dikurung di dalam kandang dengan meletakkan makanan di luar. Tugas hewan adalah membuka sangkar dan mengambil makanan. Eksperimen ini disebut pengkondisian instrumental untuk merefleksikannya dengan pengkondisian klasik dan dikenal sebagai teori moneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli dengan perilaku mandiri.
Thorndike mengidentifikasikan tiga hukum belajar
1.Hukum efek : suatu keadaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat,dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut.
2.Hukum latihan : pengulangan dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon respon yang benar.
3.Hukum kesiapan : kondisi yang mengatur keadaan disebut sebagai ‘’memuaskan” atau “menjengkelkan”
Psikologi Gestalt
Gestalt berfokus pada persepsi dalam belajar. Individu merespon keseluruhan ketimbang sebagian, individu akan membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif.
Asumsi daar teori Gestalt
1.Perilaku molar adalah perilaku yang harus dipelajari
2.Individu memahami aspek dari lingkungan sebagai stimuli
3.Lingkungan geografis berbeda dengan behavioris yang merupakan cara sesuatu meuncul.
4.Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.

Hukum Gestalt dasar
1.      Hukum Pragnanz
Hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus,individu akan mempersepsikan stimulus yang paling komperhensif, stabil, dan bebas dari sebab-akibat.
2.      Hukum terkait
Hukum organisasi perseptual memdeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen, ciri yang sama, tendensi elemen, dan kontribusi elemen
Belajar Berubah-Ubah dan Bermakna
            Dalam mengaplikasikan konsep struktur dan keseluruhan ke dalam analisis belajar, Wertheimer membedakan antara metode belajar “tanpa makna” dan belajar “bermakna” di kelas (Katona 1967). Wertheimer (1945/1959) mengamati bahwa setelah anak mempelajari pendekatan pemecahan masalah tertentu, seperti menentukan luas jaringan jenjang, mereka sering kali tidak mampu melihat pendekatan lain untuk tugas serupa. Mereka biasanya berkata “Kami belum tahu.”
            Implikasi dari contoh ini adalah bahwa penyediaan informasi yang membantu siswa untuk mereorganisasi sudut pandang masalah harus menjadi bagian integral dari pengajaran pemecahan masalah.

Faktor-faktor Spesifik dalam Pemecahan Masalah
            Teoritisi Gestalt lainnya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dalam pemecahan masalah. Konsep yang relevan untuk saat ini adalah latihan mentransfer, pendekatan masalah dan kelakuan fungsional, dan belenggu masalah.

Latihan Menstransfer. Riset Katona menindikasikan bahwa metode yang disebut  sebagai “penemuan dengan panduan” adalah metode yang paling efektif. Dia mengilutrasikan  enam transisi dalam konfigurasi korek api dengan hanya memindahkan beberapa barang korek. Misalnya dengan memindahkan tiga batang dapat menciptakan “lubang” di tengah konfigurasi. Metode ini memberikan petunjuk untuk memecahkan problem lain dengan mengilutrasikan prinsip struktual bahwa satu batang korek mungkin berfungsi sebagai satu sisi dalam dua segi empat secara bersamaan.

Pendekatan Masalah dan Kekakuan Fungsional. Analisis Duncker terhadap pemecahan masalah yang sukses mengindikasikan ada tiga langkah umum, yaitu: (a) memahami konflik atau masalah; (b) mengembangkan identifikasi secara jelas dan atas kesulitan dasar, dan (c) mengembangkan solusi masalah untuk mengatasi kesulitan dasar.

Belenggu Masalah. Konsep yang terkait adalah belenggu masalah atau Einstellung. Konsep ini di identifikasi oleh Abraham Luchins (1942), yang diartikan sebagai kelakuan dalam pemecahan masalah karena individu menganggap serangkaian masalah mesti dipecahkan dengan cara yang sama.

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN TEORI GESTALT

Aplikasi ke Pendidikan
            Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus pada studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasikan stimuli dan respons spesifik sebagai fokus set. Sebaliknya, psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memcahkan masalah.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 
Copyright © Ocha's Blog